Wednesday, October 7, 2015

Cara Cerdas Mengatasi Krisis Air Bersih di Kota Semarang








           “Semarang kaline banjir….”. Sepenggal lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi Keroncong kawakan Waljinah memang sungguh melegenda. Ya, sepenggal lagu tersebut  mengingatkan kita pada sosok Kota Semarang, Jawa Tengah. Memang, kesan “banjir” tak bisa dilepaskan oleh kondisi Kota Semarang.  Di saat musim penghujan, banjir kerapkali datang ke kota ini bagai tamu tak diundang.   
Kota Semarang merupakan Ibu Kota Jawa Tengah yang terletak antara garis 6°50′ – 7°10′ LS dan garis 109°35 – 110°50′ BT. Batas-batas Kota Semarang ditunjukan dengan: Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Kendal, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Demak, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Semarang dan sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa yang mempunyai panjang garis pantai sebesar 13,6 km. Sedangkan, topografi Kota Semarang terletak antara 0,75 – 348,00 di atas garis pantai.
Secara administratif, Kota Semarang terbagi atas 16 wilayah Kecamatan dan 177 Kelurahan. Luas wilayah Kota Semarang tercatat 373,70 km2 . Luas yang ada, terdiri dari 39,56 km2 (10,59 %) tanah sawah dan 334,14 km2 (89,41%) bukan lahan sawah. Dilihat dari segi penduduk, Kota Semarang dihuni lebih dari 1.500.000 jiwa dengan pertumbuhan penduduk selama tahun 2013 sebesar 0,83 %. Yang menarik adalah kepadatan penduduk justru terjadi pada daerah yang mempunyai dataran lebih tinggi, yaitu: Kecamatan Semarang Selatan yang memiliki kepadatan tertinggi dengan 13.882 orang/km2. Ditambah lagi dengan adanya urbanisasi menyebabkan kepadatan penduduk Kota Semarang selama 5 (lima) tahun terakhir cenderung naik seiring dengan kenaikan jumlah penduduk. Jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) sekitar 71,57 % dari jumlah penduduk Kota Semarang.
Di mata saya, Kota Semarang memang sungguh unik. Perasaan “ngangeni” jika lama tidak menginjak kota ini. Hampir 3 tahun saya pernah hidup di Kota Semarang membuat banyak kenangan indah. Bukan hanya keramahan warganya, kuliner yang enak dan murah meriah, tetapi kondisi alam yang  berhubungan dengan air bersih bagai sayur tak lengkap  tanpa garam.  Benar, di kota ini saya pernah mengalami bagaimana rasanya mengalami krisis air bersih karena musim penghujan dan musim kemarau. Air bersih bagai barang mahal di mata masyarakat. Apalagi di saat musim kemarau, manfaat air bersih di Kota Semarang selatan bagai dewa penyelamat kehidupan. Tetapi, di saat musim penghujan di Kota Semarang bagian utara kita akan dengan mudah menemukan daerah banjir. Dari 2 kondisi tersebut memberikan permasalahan yang nyaris sama, yaitu: Krisis Air Bersih.
Untuk menganalisa masalah krisis air bersih, pertama-tama mari kita mengetahui tentang karakteristik Kota Semarang terlebih dahulu. Kota Semarang sebagai Ibukota Provinsi Jawa Tengah memiliki karakteristik geografis yang unik. Karakteristik tersebut berhubungan dengan kondisi daratan yang ada. Di mana,  wilayah Kota Semarang terbagi menjadi dua bagian, yaitu: dataran rendah yang terletak di bagian utara dan dataran tinggi yang matoritas terletak di bagian selatan. Wilayah Kota Semarang bagian utara merupakan dataran rendah yang berada di pesisir pantai utara Pulau Jawa. Di wilayah ini terdapat berbagai jenis kegiatan industri dan fasilitas umum perkotaan, seperti perkantoran, perdagangan, jasa, pendidikan, kesehatan serta sarana transportasi (Bandara Ahmad Yani, stasiun kereta api, pelabuhan dan terminal). Sedangkan wilayah Kota Semarang bagian selatan merupakan daerah perbukitan, yang dimanfaatkan sebagai lahan konservasi, area pemukiman dan pendidikan. Oleh sebab itu, ada perbedaan mencolok kegunaan lahan di 2 wilayah tersebut.
                                                                                                        
100 Resilient Cities (100RC) 
Masalah Krisis Air Bersih merupakan salah satu dari kejadian yang rutin terjadi di Kota Semarang setiap tahunnya. Itulah sebabnya, masyarakat Kota Semarang sudah terbiasa dengan adanya kekurangan air bersih dan banjir yang datang setiap tahun. Tetapi, perlu diketahui bahwa kekuatan manusia ada batasnya. Daya tahan terhadap musibah pun pasti akan menemui titik jenuh. Apalagi, musibah yang datang mampu memberikan dampak terhadap datangnya musibah yang lainnya.  Itulah sebabnya, Pemerintah Kota Semarang meluncurkan program yang berguna bagi masyarakat agar Kota Semarang menjadi sosok Kota yang kuat dan tangguh dari Guncangan dan Tekanan bernama 100 Resilient Cities (100RC).
Sebagai informasi, bahwa 100 Resilient Cities (100RC) merupakan sebuah program yang didanai oleh Rockefeller Foundation yang bertujuan untuk membantu kota-kota di seluruh dunia agar menjadi kota yang tangguh dalam menghadapi tantangan fisik, sosial dan ekonomi, dan tidak hanya tantangan yang diakibatkan oleh perubahan iklim. Kota Semarang merupakan salah satu kota yang terpilih untuk berpartisipasi dalam program 100RC. Bahkan, sampai saat ini sudah ada 67 kota diseluruh dunia yang terpilih oleh tim seleksi, antara lain: Los Angeles (USA), Mexico City (Meksiko), New Orleans (USA), New York City (USA), MedellĂ­n (Colombia), Porto Alegre (Brazil), Quito (Ecuador) , Rio De Janeiro (Brazil), Surat (India), Bangkok (Thailand), Mandalay (FIlipina), Da Nang (Vietnam), Semarang (indonesia), Bristol (UK), Glasgow (UK) , Roma (Italia), Rotterdam (Belanda), Dakar (Senegal), dan Durban (Afrika Selatan).
            Ha-hal yang dilakukan oleh tim 100 Resilient Cities (100RC) memang luar biasa dalam mencetak ketangguhan Kota Semarang dari Guncangan dan Tekanan. Karena, program 100RC membantu Kota Semarang dalam menyusun dan menerapkan Strategi Ketahanan Kota. Strategi Ketahanan Kota merupakan sebuah pendekatan terpadu untuk membangun ketahanan baik dalam menghadapi pemasalahan (guncangan dan tekanan). Strategi ketahanan akan memberikan manfaat dengan investasi yang minim, meningkatkan investasi, meminimalkan biaya dan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat. Masyarakat Kota Semarang diajari sejak dini untuk merespon dan tanggap mengantisipasi bencana yang datang dengan sebaik-baiknya. Dengan tujuan untuk meminimalisir kerugian harta benda dan nyawa.
Ketahanan Kota memang berguna untuk menjadikan masyarakat kota tidak kaget dengan bencana yang datang setiap saat. Ketahanan Kota adalah adalah kapasitas individu, masyarakat, lembaga, perusahaan dan sistem di dalam sebuah kota untuk dapat bertahan, beradaptasi dan tumbuh dengan adanya berbagai guncangan dan tekanan yang dialami, baik fisik maupun sosial. Bahkan, dengan meningkatkan Ketahanan Kota memberikan kesempatan kota untuk mengevaluasi masalah keterpaparan kota terhadap guncangan dan tekanan tertentu, untuk mengembangkan rencana yang proaktif dan integral dalam menghadapai tantangan tersebut dan supaya dapat merespon secara efektif. Selanjutnya, berikut ini adalah daftar Guncangan dan Tekanan yang bisa menimpa Kota Semarang setiap saat, yaitu:

Guncangan dan Tekanan yang ada di Kota Semarang (Sumber: 100RC)


Guncangan dan Tekanan
Dari daftar Guncangan dan Tekanan Kota Semarang di atas, maka kita akan menganalisa salah satu dari tekanan yang ada di Kota Semarang, yaitu: Krisis Air Bersih dari segi sebab, akibat dan solusi yang cerdas permasalahan tersebut. Saat ini, beberapa kota di Indonesia khususnya Kota Semarang masih dilanda musim kemarau. Banyak kekeringan terjadi di seluruh Kota Semarang karena kurangnya air bersih untuk kebutuhan masyarakat. Informasi dari BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Semarang mengeluarkan prediksi bahwa puncak kemarau akan terjadi hingga September 2015. Tetapi, karena pengaruh el nino dari pertengahan Juli 2014 sampai sekarang diprediksi musim kemarau meningkat hingga 2016 mendatang. Kondisi tersebut menyebabkan, ancaman krisis air bersih masih menjadi permasalahan yang akan dihadapi masyarakat Kota Semarang.
            Perlu diketahui bahwa ada beberapa sumber air bersih yang bisa diperoleh oleh masyarakat Kota Semarang untuk kebutuhan sehari-hari. Salah satu sumber air bersih yang dapat diperoleh masyarakat Kota Semarang adalah air PDAM. Jumlah pemakaian air melalui PDAM Kota Semarang pada tahun 2013 saja tercatat 43,162 juta M3. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah pemakaian air PDAM mengalami kenaikan sebesar 2,62%. Pemakaian terbanyak terdapat pada pelanggan Rumah Tangga sebanyak 35,288 juta M3 atau sekitar 81,75 % dari seluruh pemakaian air minum yang menunjukkan adanya peningkatan konsumsi air PDAM sebesar 1,97 % dari tahun sebelumnya.
              Daerah  yang sering mengalami krisis air bersih  setiap musim kemarau datang di antaranya Kelurahan Jatisari, Kecamatan Mijen, Semarang.  Sumur-sumur yang dimiliki warga sering mengalami kekeringan. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan air bersih, warga tinggal mengandalkan satu sumber air bersih dari sendang yang dikelola kelurahan. Dampaknya, tiap hari warga harus antri untuk sekedar mendapatkan jatah dua derigen atau dua ember air bersih yang diperoleh dari sumur yang masih menyimpann air bersih. Bahkan, warga pun terpaksa dibatasi untuk mendapatkan air bersih agar setiap warga bisa kebagian. Daerah lain yang mengalami krisis air bersih adalah di kampung Deliksari yang masih dalam kawasan Gunungpati.

 Masalah krisis air bersih di dusun Deliksari, Sukorejo, Gunung Pati   
(Sumber: Radar  Semarang)

              Banyak warga yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan air bersih.  Hal tersebut dikarenakan sejumlah sumur milik warga yang berada di dataran paling tinggi di Semarang tidak bisa mengeluarkan air bersih. Yang mengharukan adalah banyak warga yang harus menempuh jarak beberapa kilometer untuk mendapatkan air bersih yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Daerah-daerah yang mengalami krisis air bersih tersebut terletak di Semarang bagian selatan. Banyak warga di kawasan Semarang Selatan yang mengalami krisis air bersih saat musim kemarau datang tentu ada sebabnya. Salah satu penyebabnya adalah hampir sebagian wilayah kota Semarang di kawasan Semarang Selatan yang belum tersentuh layanan PDAM.     Masalah krisis air bersih terjadi bukan hanya di Kecamatan Gunung Pati, tetapi Kecamatan Tembalang dan Kecamatan Mijen sering mengalami masalah serupa.
              Masalah krisis air bersih yang terjadi di Kota Semarang juga dipengaruhi karena kurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang bisa berfungsi sebagai daerah resapan air bersih. Apalagi, luasan hutan yang ada di Kota Semarang pun sebagai daerah daerah resapan  air bersih masih kurang. Sebagai informasi, menurut BPS Kota Semarang menunjukan bahwa Luasan Hutan di Kota Semarang sebanyak 37.367 hektar dengan perincian  Hutan Negara sebanyak 2.175,79 hektar (5.82%) dan Hutan Rakyat 9.615,06 hektar (25.73%). Yang mengejutkan adalah luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang masih kecil, yaitu: 7,5 Persen. Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai ruang publik di Kota Semarang, yang meliputi taman dan hutan kota hanya 7,5 persen. Padahal, luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai ruang publik yang diwajibkan dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang adalah minimal sebesar 20 persen.
Kepala Bidang Pertamanan Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Semarang Budi Prakosa, menyebutkan bahwa berdasarkan data tahun 2013, luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Semarang seluas 7,5 persen dari luas Kota Semarang 373,67 hektar. Sedangkan, RTH yang ada di Kota Semarang terdiri dari 239 taman, 11 Taman Pemakaman Umum (TPU), hutan produksi, hutan rakyat, dan hutan kota. Di luar itu, ada tambahan taman baru, di antaranya: Taman Tirto Agung di Banyumanik, Taman Pandanaran, Taman Lalu Lintas di Mangkang, Taman Jatisari di Mijen, Taman Sampangan, Taman Rejomulyo. Bahkan, Pemerintah Kota Semarang berniat akan menambah hutan kota di kawasan Mijen dan bumi perkemahan di dekat kawasan Waduk Jatibarang. Namun, di luar penambahan kawasan RTH, ada saja kawasan hijau yang beralih fungsi, seperti: di kawasan Jalan Gadjah Mada telah beralih menjadi gedung pertemuan dan Taman Sompok berganti menjadi kantor kecamatan. Secara otomatis telah mengurangi daerah resapan air bersih.
Kurangnya kuantitas air bersih di Kota Semarang juga dipengaruhi oleh permasalahan banjir yang belum teratasi hingga kini. Tidak teratasinya bencana banjir di Kota Semarang bagian bawah mengakibatkan perkembangan kota lebih banyak bergeser ke Semarang bagian atas (Semarang Selatan). Padahal, di kawasan Semarang Selatan seharusnya berfungsi sebagai kawasan lindung dan/atau daerah resapan air bersih telah banyak berubah menjadi daerah permukiman dan industri. Dampaknya adalah bencana banjir yang makin besar dan disertai kandungan lumpur yang cukup tinggi.
            Bukan hanya banjir yang tidak tertangani, masalah krisis air bersih juga disebabkan karena konsumsi Air Bawah Tanah (ABT) yang tidak terkendali. Kondisi ini berdampak pada turunnya permukaan tanah yang tidak pernah kita sadari. Bahkan, penurunan permukaan tanah di kawasan pusat Kota Semarang terparah terjadi di kawasan Simpang Lima yang mencapai 10 cm/tahun. Kondisi tersebut dibuktikan dengan adanya proyek peninggian jalan yang dilakukan setiap tahun oleh Pemerintah Kota Semarang karena Air Bawah Tanah (ABT) banyak diambil oleh pusat bisnis, seperti: hotel dan pusat perbelanjaan. Oleh sebab itu, perlunya kebijakan dari Pemerintah Kota Semarang untuk menghentikan izin-izin pengambilan Air Bawah Tanah (ABT). Bahkan, menurut pendapat  pakar hidrologi Undip Nelwan meminta supaya Pemerintah Kota Semarang untuk menghentikan izin-izin Air Bawah Tanah (ABT).  Menurutnya lagi, "Bagi saya ABT faktor penentu amblesnya tanah. Dengan jenis tanah alluvial, kalau air di bawahnya diambil maka tanah itu akan turun”.


Dampak yang dipengaruhi karena penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) 
terhadap penurunan permukaan tanah  (Sumber: Istimewa)

Pemberian izin penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) mengacu pada UU No. 7 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah (PP) No.43 Tahun 2004 yang mengatur tentang pengolahan air tanah yang izinnya dikeluarkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota setelah mendapat rekomendasi Gubernur. Hal tersebut dikarenakan dampak penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) secara terus menerus memang luar biasa. Apalagi, struktur tanah di Kota Semarang yang dulunya merupakan kawasan pantai, berupa lapisan tanah liat (lempung), pasir, dan kerikil secara alamiah masih mengalami konsolidasi serta berpotensi terjadi amblesan tanah setiap tahunnya. Oleh sebab itu, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah tidak lagi mengizinkan perpanjangan izin penggunaan Air Bawah Tanah (ABT) dan pembuatan sumur baru di zona merah Kota Semarang yang berlebihan. Kawasan zona merah, adalah kawasan yang terletak di kawasan PRPP, Kecamatan Krobokan, Jalan Gajahmada, utara Jalan Pandanaran, sebagian Simpang Lima, utara Masjid Agung Jawa Tengah, Kecamatan Sawah Besar, hingga timur Kecamatan Sayung, Demak. Pada zona merah tersebut, Dinas ESDM benar-benar membatasi pengambilan Air Bawah Tanah (ABT) maksimal 30 meter kubik. Itulah sebabnya, pada tahun 2014 sudah ada 6 (enam) perusahaan yang pengajuan izinnya ditolak.
Menurut Whittaker and Reddish (1989) menyatakan bahwa penurunan tanah bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti: 1) Penurunan muka tanah alami (natural subsidence) yang disebabkan oleh proses-proses geologi seperti aktifitas vulkanik dan tektonik, siklus geologi, adanya rongga di bawah permukaan tanah dan sebagainya; 2) Penurunan muka tanah yang disebabkan oleh pengambilan bahan cair dari dalam tanah seperti air tanah atau minyak bumi; 3) Penurunan muka tanah yang disebabkan oleh adanya beban-beban berat diatasnya, seperti struktur bangunan sehingga lapisan-lapisan tanah di bawahnya mengalami kompaksi/konsolidasi. Penurunan muka tanah ini sering juga disebut dengan settlement; 4) Penurunan muka tanah akibat pengambilan bahan padat dari tanah (aktifitas penambangan). Dampak penurunan tanah pun berakibat fatal bagi kebutuhan akan air bersih. Bencana banjir rob karena penurunan muka tanah yang terjadi di Kota Semarang Utara seperti di Kelurahan Tanjung Mas, Terboyo Kulon, Purwodinatan dan Semarang Tengah merupakan bukti betapa susahnya mendapatkan air bersih (Hari, Septriono, 2013).

 Banjir rob yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mengganggu 
proses bongkar muat (Sumber: 100 Resilient Cities/100RC)

Secara keseluruhan, di Kota Semarang mengalami Penurunan Muka Tanah ( PMT ) yang tinggi antara 9-13 cm/tahun berada di sebagian wilayah Kelurahan Tawangsari dan Tawangmas (Kecamatan Semarang Tengah), Panggung Lor, Panggung Kidul, Plombokan, Purwosari, Kuningan, Bandarharjo dan Tanjungmas (Kecamatan Semarang Utara), Kemijen, Rejomulyo, Mlatibaru, Mlatiharjo, Bugangan, Purwodinatan dan Rejosari (Kecamatan Semarang Timur), Tambakrejo, Kaligawe, Sawah Besar dan Sambirejo (Kecamatan Gayamsari), Muktiharjo Lor, Terboyo Kulon, Terboyo Wetan dan Trimulyo (Kecamatan Genuk). Sedangkan, menurut hasil studi Institut Teknologi Bandung (ITB) (1995) melalui simulasi komputer menyimpulkan bahwa:
“Laju penurunan tanah dari tahun 1985 sampai 2002 diperkirakan berkisar antara 0,5 sampai 1,6 cm/tahun, dengan sebaran 1,0 cm/tahun di STM Perkapalan, 0,9 cm/tahun di Simpang Lima, 1,6 cm/tahun di Tambaklorok, 0,7 cm/tahun di P3B Pelayaran, 0,5 cm/tahun di Jomblang, dan 0,9 cm/tahun di Kaligawe. Sementara, berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh JICA (1997) menyimpulkan bahwa penurunan muka tanah sepanjang Jl. Siliwangi (Semarang-Kendal), Jl. Kaligawe (Semarang - Demak) dan dekat Tugu Muda diperkirakan berturut-turut sebesar 0,0; 7,0 dan 1,4 cm per tahun. Kawasan sepanjang Kaligawe mengalami laju penurunan yang paling parah, karena pada kawasan tersebut terjadi pengambilan air bawah tanah yang besar oleh hampir semua pabrik dan industri. Di kawasan Tanah Mas terdapat 20 buah sumur dalam dan telah beroperasi sejak 1980. Walaupun kawasan Tanah Mas telah terjangkau layanan PDAM, namun pada umumnya masyarakat hanya menggunakan air PDAM untuk air minum. Sementara untuk keperluan mandi, cuci, dan lainnya menggunakan air bawah tanah, yang diambil dari kedalaman 90 sampai 100 meter”

Laju Penurunan Muka Tanah (PMT) yang terjadi di Kota Semarang ditunjukan dengan perbedaan warna, di mana kawasan yang berwarna hijau tua merupakan kawasan yang mengalami amblesan tanah tertinggi.  Untuk lebih jelasnya bisa lihat pada gambar berikut: 


 Laju Penurunan Muka Tanah (PMT) Kota Semarang tahun 2007-2012 
(Sumber: Undip, 2012)


            Gangguan pelayanan PDAM juga bisa menyebabkan krisis air bersih. Apalagi, jika kasus tersebut terjadi pada saat musim kemarau.  Salah satu gangguan yang berhubungan dengan pasokan air PDAM adalah karena saluran air di IPA Kudu masih menggunakan saluran terbuka. Kondisi tersebut menyebabkan kasus kehilangan air karena air meresap ke dalam tanah, menguap, dan dimanfaatkan tidak pada rencana. Banyak petani yang memanfaatkan air tersebut untuk irigasi, ternak, dan mandi. Padahal, jika saluran air di IPA Kudu dibuat tertutup akan lebih aman dan hanya digunakan sebagai air baku PDAM. Permasalahan muncul saat membuat saluran air secara tertutup akan membutuhkan biaya lebih mahal yang menjadi tanggung jawab PDAM itu sendiri. Akibatnya, harga air di tingkat konsumen juga akan lebih mahal. Tetapi, perlu diingat bahwa biaya operasional yang diakibatkan dari saluran air tertutup akan lebih ringan dan potensi kehilangan air pun akan jauh berkurang. Selama ini, PDAM memang harus mengambil air dari sumber sejauh 40 kilometer ke daerah Klambu (Grobogan) karena tidak ada sumber lain yang terdekat dari IPA Kudu.
Solusi Terbaik
Permasalahan banjir di Kota Semarang yang belum bisa diatasi hingga kini akibat Penurunan Muka Tanah (PMT) menjadi hal yang biasa terjadi. Banjir rob yang sering terjadi di kawasan Kota Semarang bagian utara, seperti daerah di sekitar pesisir pantai Laut Jawa membutuhkan penangan yang cukup serius bagi semua kalangan, khususnya Pemerintah Kota Semarang. Banjir rob yang mencapai 2,5 km perlu program penangan tepat guna. Oleh sebab itu, berbagai program yang dilaksanakan Pemerintah Kota Semarang untuk  penanganan banjir mengakibatkan  dampak banjir rob yang dirasakan masyarakat sudah sangat berkurang. Tetapi, masyarakat Kota Semarang merasa bahwa proyek penangangan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang belum terkoordinasi dengan baik dengan program penanganan yang dilakukan oleh pihak lain, sehingga penanganan banjir rob belum optimal hingga saat ini.
Solusi yang dilakukan menurut Kepala Subdinas Pengairan Dinas Pekerjaan Umum, Fauzi mengatakan bahwa konsep water front city perlu untuk diterapkan di daerah dengan tingkat Penurunan Muka  Tanah (PMT) tinggi, seperti: Tanah mas, Tawang dan Tambaklorok. Hal tersebut penting sebagai upaya adaptasi bencana dari masyarakat kawasan perkotaan untuk mengantisipasi adanya banjir rob. Terlebih lagi, bahwa program penanganan banjir rob selalu menjadi prioritas di dalam rencana-rencana yang dibuat oleh Pemerintah Kota Semarang setiap tahunnya. Tindakan yang dilakukan seperti; pengadaan kolam retensi dan pompa air, normalisasi sungai banjir kanal, tanggul lepas pantai, dan lain-lain. Pada tahun 2014, terdapat 96 pompa yang berjalan aktif. Selanjutnya, 3 stasiun pompa akan sedang dibangun dan direncanakan di lokasi Sungai banger, dan Semarang Baru. Tindakan yang dilakukan tersebut semata-mata untuk mengatasi krisis air bersih.
 Kurangnya kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai daerah resapan air bersih juga menjadi permasalahan yang harus dipecahkan sedini mungkin. Kurangnya RTH berakibat menyempitnya daerah resapan air bersih. Area resapan air hujan yang mengalami penyempitan berakibat air hujan akan mengalir ke selokan atau limpasan air akan terbuang percuma tanpa ada yang terserap ke dalam tanah. Untuk mengatasi kondisi tersebut adalah melakukan pembuatan lubang Biopori. Lubang Biopori adalah sebuah lubang dengan diameter 10 sampai 30 cm dengan panjang 30 sampai 100 cm yang ditutupi oleh sampah organik yang berfungsi untuk menjebak air yang mengalir di sekitarnya, sehingga dapat menjadi sumber cadangan air bagi air bawah tanah, tumbuhan di sekitarnya serta dapat juga membantu pelapukan sampah organik menjadi kompos yang bisa dipakai untuk pupuk bagi tumbuh-tumbuhan
Oleh sebab itu, tujuan dan manfaat dari pembuatan lubang biopori adalah untuk memaksimalkan air yang meresap ke dalam tanah sehingga menambah volume air tanah sebagai sumber penyedia air bersih yang berkualitas, sebagai media pembuatan kompos alami dari sampah organik, mengurangi genangan air yang menimbulkan penyakit, mengurangi limpasan air hujan yang terbuang percuma ke laut, mengurangi resiko banjir dan memaksimalkan aktivitas flora dan fauna tanah. Pembuatan Lubang Biopori juga untuk mencegah erosi dan bencana tanah longsor. Sebagai informasi, lokasi yang sangat cocok dan strategis untuk kawasan pembuatan Lubang Biopori adalah kawasan yang padat penduduk atau kawasan pendidikan, seperti: di alas saluran air hujan di sekitar kawasan kost mahasiswa, kawasan kantor, kawasan kampus dan kawasan perumahan penduduk.  
            Setiap krisis air bersih yang terjadi di beberapa tempat di Kota Semarang  saat musim kemarau menjadi tugas yang harus diemban Pemerintah Kota Semarang yang melibatkan kerjasama dengan stakeholder lainnya. Seperti yang dilakukan oleh Yayasan Terang Bangsa (YTB) Semarang bekerjasama dengan Polres Semarang di Desa Jatirunggo, Pringapus, Semarang, tanggal 2 September 2015 lalu.  Yayasan tersebut memberikan bantuan air bersih di salah satu Kecamatan di Semarang Selatan.  


 Bantuan air bersih untuk mengatasi krisis air bersih di masyarakat
 (Sumber: kompas.com)

Krisis air bersih juga terjadi saat  kurangnya pasokan air bersih yang dialami oleh PDAM menjadi perhatian semua kalangan. Pemerintah Kota Semarang pun berusaha untuk membangun embung (waduk sekala kecil) yang dibuat di beberapa wilayah rawan kekeringan. Pembuatan Embung tersebut bertujuan untuk menampung air, yang bisa digunakan untuk pertanian ketika musim kemarau. Menurut Humas PDAM Tirta Moedal Semarang Saebani menyatakan bahwa untuk mengatasi gangguan musim kemarau seperti sekarang, sistem bergilir dan membagi air harus dilakukan. Tujuannya supaya air bersih terbagi secara merata, dan semua pelanggan dapat mendapatkan pasokan. Sesuai data PDAM, kini ada dua sumber air yang selama ini digunakan untuk melayani pelanggan (sumur dalam dan sumber mata air) yang terdapat di kaki Gunung Ungaran serta sumur-sumur dalam yang membentang di sepanjang Ungaran hingga Gunungpati, Boja dan di dalam Kota Semarang.
              Krisis air bersih juga menciptakan daya kreasi masyarakat khususnya kalangan mahasiswa.  Dengan mengadopsi pemanfaatan air laut yang berlimpah, 5 orang mahasiswa Universitas Diponegoro menciptakan alat pengolah air bersih yang dinamakan “Omitor” (Ocean Windmill Desalinator). Omitor merupakan suatu alat yang dapat merubah air laut menjadi air bersih. melihat banyaknya perairan yang ada sekaligus untuk mengatasi kurangnya air bersih di beberapa daerah di Indonesia. Apalagi, negara Indonesia yang terkenal negara maritim, sumber air laut tidak pernah kekurangan. Ditambah lagi dengan adanya tenaga angin yang berlimpah untuk menggerakan sebuah turbin. Itulah sebabnya, Omitor diciptakan sebagai suatu alat penghasil air bersih yang dapat bermanfaat untuk masyarakat dengan mengubah air laut menjadi air bersih siap pakai, sebagai sumber air yang stabil, serta mengurangi sumber air tanah yang ikut berdampak pada penurunan lapisan tanah di Indonesia.
              Yang menjadi nilai tambah adalah tenaga Omitor menggunakan energi cahaya matahari (solar cell) sebagai pemanas, kemudian angin sebagai penggerak pompa dan untuk desalinasi menggunakan metode evaporasi. Perlu diketahui bahwa metode desalinasi air laut tidak hanya mendapatkan air bersih, tetapi juga dapat memanfaatkan endapan garam yang berguna bagi masyarakat. Dengan demikian, terbukti bahwa Omitor dapat menurunkan salinitas dari air laut sehingga berpotensi dalam berkontribusi mengatasi masalah krisis air bersih di masyarakat, khususnya masyarakat Kota Semarang. Meskipun, Omitor perlu dilakukan survey dahulu tentang pendapat masyarakat terhadap produk tersebut, tetapi keberadaannya menjadi “angin segar” terhadap krisis air bersih yang ada di Indonesia. Satu hal lagi, di balik  kesempitan berupa krisis air bersih melahirkan sebuah kesempatan yang luar biasa yaitu: terciptanya alat pengolah air bersih, Omitor.



Mahasiswa Undip yang menciptakan alat pengolah air bersih, Omitor 
(Sumber: Undip)

              Jadi, permasalahan dan solusi krisis air bersih telah berlangsung lama di Kota Semarang. Banyak faktor yang menjadi penyebab adanya krisis air bersih. Bukan hanya musim kemarau yang datang rutin setiap tahun, tetapi berkurangnya Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada di Kota Semarang menyebabkan semakin berkurangnya daerah resapan air bersih. Pasokan air PDAM yang tidak sesuai harapan masyarakat juga ikut andil dalam menciptakan krisis air bersih. Terjadinya banjir yang datang setiap tahun juga menyebabkan pasokan air bersih menjadi berkurang. Apalagi, daerah yang sering mengalami banjir rob di Kota Semarang bagian utara menjadikan pasokan air bersih yang dibutuhkan masyarakat semakin berkurang. Semua kejadian tersebut perlu adanya terobosan besar dari Pemerintah Kota Semarang agar Kota Semarang menjadi Kota Tangguh dari Guncangan dan Tekanan yang datang setiap saat. Peran serta masyarakat pun sangat dibutuhkan dalam menciptakan program dalam menangani krisis air bersih. Salah satu kontribusi masyarakat dalam mengatasi krisis air bersih datang dari kalangan mahasiswa dengan terciptanya alat pengolah air bersih “Omitor” yang berbasis pengolahan air laut untuk menjadi air bersih yang dibutuhkan masyarakat. 



Referensi:

Andhi Prasetyo Rohendi. 2012. Semarang Terancam Krisis Air
Anonymous. 2015. 4 Juni. Ini Solusi Pakar Undip Atasi Krisis Air Bersih Kota Semarang. Diambil dari http://jateng.tribunnews.com/2015/06/04/ini-solusi-pakar-undip-atasi-krisis-air-bersih-kota-semarang
__________. 2015. 22 June. Omitor Solusi Mengatasi Krisis Air Ala Mahasiswa Undip . Diambil dari http://www.undip.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=3218:omitor-solusi-mengatasi-krisis-air-ala-mahasiswa-undip&catid=78:latest-news
__________. 2015. 30 Juni. Masuki Kemarau, Desa di Semarang Sudah Laporkan Krisis Air Bersih. Diambil dari http://regional.kompas.com/read/2015/06/30/0518030/Masuki.Kemarau.Desa.di.Semarang.Sudah.Laporkan.Krisis.Air.Bersih
Dewi, Siti Nuraisyah Dewi & Royanto, Dwi .  2014. 8 September. Sejumlah sumur tak keluar air sejak tiga minggu terakhir. Diambil dari http://nasional.news.viva.co.id/news/read/536197-kemarau--warga-kota-semarang-krisis-air-bersih
Munir, syahrul. 2015. 2 September. Krisis Air Bersih di Semarang, Warga Beri Ternak Minum Air Bekas Mandi. Diambil dari  http://pekanbaru.tribunnews.com/2015/09/02/krisis-air-bersih-di-semarang-warga-beri-ternak-minum-air-bekas-mandi
Potter, Yudo. 2009. 6 Mei. Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence) https://yudopotter.wordpress.com/2009/05/06/faktor-faktor-penyebab-penurunan-muka-tanah-land-subsidence/
Region, Imahagi. 2012. Juni. Solusi Jitu Mengatasi Krisis Air. Diambil dari http://www.imahagiregion3.org/2012/06/solusi-jitu-mengatasi-krisis-air.html
Semarang Metro. 2014. 28 Oktober. Dinas ESDM Tolak Izin Sumur Air Bawah Tanah. Diambil dari http://berita.suaramerdeka.com/dinas-esdm-tolak-izin-sumur-air-bawah-tanah/
Unnisula. 2011. 4 November. Semarang Ambles (Land Subsidence). Diambil dari  http://planula.blogspot.co.id/2011/11/semarang-ambles.html
www.100RCSemarang.org
Yuwono, Bambang Darmo, Abidin, Hasanuddin Z.,  & Hilmi, Muhammad.  Analisa Geospasial Penyebab Penurunan Muka Tanah di Kota Semarang.  Semarang: Unversitas Diponegoro

Tag:
PermasalahandanSolusi
KrisisAirBersih
KotaSemarang
SemarangTangguh